Minggu, 17 Mei 2026

Mengupas Tuntas Hukum, Manfaat, dan Tata Cara Bersiwak Sesuai Sunnah

Tags

Ilustrasi pria muslim memegang siwak dengan latar islami hijau elegan membahas hukum, manfaat, dan tata cara bersiwak sesuai sunnah.

Pendahuluan


Bersiwak, atau membersihkan mulut dan gigi menggunakan siwak, adalah praktik sunah yang sangat ditekankan dalam Islam. Lebih dari sekadar menjaga kebersihan, bersiwak memiliki manfaat spiritual dan kesehatan yang luar biasa. Artikel ini akan mengupas tuntas segala hal tentang siwak, berdasarkan dalil dari Al-Qur'an, Hadis, dan pendapat ulama.


1. Definisi dan Kedudukan Siwak dalam Syariat Islam

Siwak adalah kegiatan membersihkan mulut dan gigi menggunakan alat yang berasal dari akar pohon arak atau sejenisnya. Dalam Islam, bersiwak memiliki kedudukan yang sangat penting. Teks yang Anda berikan menyatakan bahwa bersiwak adalah "sebagian sunnahnya wudhu'". Ini menunjukkan bahwa bersiwak sangat dianjurkan, terutama saat akan berwudu.

 

Dalil dari Hadis:

Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Seandainya aku tidak khawatir memberatkan umatku, niscaya akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali akan berwudu." (HR. An-Nasa'i).

 

Dalam riwayat lain, 

Nabi bersabda, "Siwak itu pembersih mulut dan mendatangkan keridaan Tuhan." (HR. An-Nasa'i, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban).

Hadis-hadis ini secara jelas menunjukkan keutamaan siwak dan anjuran kuat dari Nabi Muhammad untuk melaksanakannya. Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari menjelaskan bahwa hadis tentang siwak ini menunjukkan perintah yang sangat ditekankan, namun tidak sampai pada level wajib.

 

2. Hukum Bersiwak dalam Berbagai Kondisi

bersiwak itu "sunnah dalam segala keadaan". Namun, ada beberapa kondisi khusus yang perlu diperhatikan, terutama bagi orang yang sedang berpuasa.

 

a. Hukum Bersiwak bagi Orang yang Berpuasa

 

Teks tersebut menjelaskan bahwa bersiwak bagi orang yang berpuasa, baik puasa fardhu maupun sunnah, hukumnya tidak makruh hingga "terkena hukum makruh tanzih". Hal ini berlaku hingga matahari condong ke barat atau waktu zuhur. Setelah waktu tersebut, bersiwak dianggap makruh.

 

Pandangan Ulama:

 

Imam Syafi'i (sebagaimana dikutip dalam teks): Teks tersebut menyebutkan bahwa Imam Nawawi memilih pendapat bahwa "bersiwak tidak makruh secara mutlak". Ini adalah pendapat yang kuat dalam Mazhab Syafi'i, bahwa bersiwak tidak makruh baik sebelum maupun sesudah zuhur bagi orang yang berpuasa. Dalilnya adalah hadis umum tentang keutamaan siwak yang berlaku sepanjang hari. 

Pendapat ini juga didasarkan pada hadis dari Amir bin Rabi'ah, "Aku melihat Rasulullah bersiwak saat beliau sedang berpuasa. Jumlahnya tak terhitung." (HR. At-Tirmidzi).

 

Mazhab Hanafi dan Maliki: Mereka berpendapat bahwa bersiwak setelah waktu zuhur (setelah matahari condong ke barat) adalah makruh bagi orang yang berpuasa. 

Dalil mereka adalah hadis Nabi, "Sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau kasturi." (HR. Bukhari dan Muslim). Mereka berpandangan bahwa bersiwak setelah zuhur dapat menghilangkan bau mulut yang dianggap mulia tersebut.

 

Namun, pendapat yang lebih kuat, sebagaimana dipilih oleh Imam Nawawi dan banyak ulama lainnya, adalah bahwa bersiwak tidak makruh secara mutlak bagi orang yang berpuasa. Al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah menyebutkan bahwa hukum bersiwak bagi orang yang berpuasa tidak berbeda dengan hukum bersiwak bagi orang yang tidak berpuasa.

 

3. Waktu-Waktu yang Sangat Dianjurkan (dianjurkan) untuk Bersiwak

bersiwak "sangat dianjurkan dalam 3 keadaan (tempat) yaitu":

 

a. Ketika Mulut Terasa Berbau Tidak Sedap

Ini adalah kondisi utama yang sangat dianjurkan untuk bersiwak. Teks tersebut menjelaskan bahwa bau mulut bisa disebabkan oleh "azm" (lama tidak makan/diam) atau karena bau busuk lainnya akibat makanan yang berbau tajam seperti bawang putih, bawang merah, dan lain-lain.

 

Dalil dari Hadis:

 

Nabi bersabda, "Siwak itu pembersih mulut..." (HR. An-Nasa'i).

 

Tujuan utama siwak adalah membersihkan dan menyegarkan mulut. Oleh karena itu, ketika mulut kotor atau berbau tidak sedap, anjuran untuk bersiwak menjadi sangat ditekankan.

 

b. Ketika Bangun dari Tidur

Setelah bangun tidur, mulut sering kali terasa tidak enak dan berbau. Bersiwak pada saat ini sangat dianjurkan untuk membersihkan mulut dan menyegarkan napas.

 

Dalil dari Hadis:

 

Hudzaifah radhiyallahu 'anhu berkata, "Apabila Rasulullah bangun tidur di malam hari, beliau menggosok mulutnya dengan siwak." (HR. Bukhari dan Muslim).

 

c. Ketika Hendak Berdiri Melakukan Shalat Wajib atau Shalat Sunnah

Kondisi ini merupakan salah satu waktu utama yang sangat ditekankan untuk bersiwak. Bersiwak sebelum shalat bertujuan untuk membersihkan mulut sehingga saat membaca Al-Qur'an dan berzikir dalam shalat, kondisi mulut dalam keadaan bersih.

 

Dalil dari Hadis:

 

Nabi bersabda, "Seandainya aku tidak khawatir memberatkan umatku, niscaya akan aku perintahkan mereka untuk bersiwak setiap kali akan shalat." (HR. Bukhari dan Muslim).

 

Adab dan Tata Cara Bersiwak

Berniat untuk mengikuti sunah Rasulullah SAW.

Memegang siwak dengan tangan kanan. Ini sesuai dengan prinsip dalam Islam untuk mendahulukan sisi kanan dalam hal-hal yang baik.

Memulai dari bagian kanan mulut.

Menggerakkan siwak ke arah tenggorokan secara perlahan hingga mencapai bagian gigi geraham.

Manfaat, Niat, dan Cara Pelaksanaan Bersiwak

 

Manfaat dan Khasiat Bersiwak


manfaat siwak, di antaranya:

Membersihkan dan memutihkan gigi.

Mengharumkan mulut.

Menguatkan gusi dan membersihkan tenggorokan.

Menambah kefasihan dalam berbicara.

Meningkatkan pahala dan mendapatkan ridha Allah.

Mempertajam penglihatan (ini sering disebutkan dalam literatur fiqih, meski dalilnya tidak sekuat hadis-hadis lain).

Membantu mengingat syahadat saat ajal tiba.

 

Niat dan Cara Pelaksanaan Siwak

 

Niat Bersiwak: Teks ini memberikan lafal niat yang bisa dibaca: "Nawaitu sunnata al-siwaaki" (Aku niat melaksanakan sunah bersiwak).

 

Tata Cara Minimal dan Sempurna: Menurut Az Zamzami, pelaksanaan minimal siwak adalah membersihkan seluruh bagian gigi secara merata. Pelaksanaan yang lebih sempurna adalah dengan membersihkan langit-langit mulut juga.


EmoticonEmoticon